Cari Entry Blog Ini

Minggu, 12 Mei 2013

PEMBELAAN ATAS FILSAFAT ALA PESANTREN



Peresensi : Puji Hartanto*
Filsafat di dunia pesantren merupakan satu kajian yang belum tersentuh. Mungkin di beberapa pesantren masih mempopulerkan pendapat ulama kawakan, seperti , Ibnu Sholah yang berkata "Barang siapa yang berlogika-berfilsafat maka dia dihukumi kafir zindiq" terlebih Imam al-Ghazali yang karya-karyanya dijadikan simbol spiritual tertinggi di dunia pesantren, menulis suatu karya yang mungkin bagi kaum santri mungkin begitu kuat menancap. Di benak, Tahafut al-Falasifah (kerancauan para filsuf). Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau sampai saat ini pesantren masih terlalu menyibukan diri pada Tafakkahu fi ad-din (memahami ilmu agama) sambil membuang arti penting dunia.
Singkat kata, filsafat didunia pesantren masih merupakan sesuatu yang asing. Bahkan sebagian kiai masih berpendapat bahwa filsafat adalah anak haram hasil perselingkuhan orang-orang Yunani dengan para cendikiawan muslim. Semesta Sabda, Novel filsafat yang ditulis oleh Fauz Noor sebagai kelanjutan novel pertamanya "Tapak Sabda" mencoba untuk membidik masalah-masalah yang selama ini kurang diperhatikan oleh para ulama kita khususnya di dunia pesantren. Misalnya dalam suratnya kepada "Sabda" di bab Bahasa Langit, Bahasa Bumi, disitu kita akan menemukan topik bahasan mengenai divinisi agama (ad-din). Selama ini ulama mendevinisikan agama sebagai "ketentuan-ketentuan Tuhan yang mendorong siapapun yang berakal untuk berbuat baik didunia maupun diakhirat" Menurut "firman" si penulis yang menempatkan diri sebagai pengirim surat misterius kepada "Sabda", definisi tersebut masih terlalu abstrak. Yaitu dengan menafikan keberadaan akal, padahal menurutnya, akal adalah sesuatu yang real. Disini "Firman" melakukan pembelaannya terhadap filsafat dengan mengutip hadist Nabi yang artinya: "bahwa ad-din (agama) itu akal dan tidak ada ad-din (agama) bagi orang-orang yang tidak berakal". Kemudian "Firman" mengartikan bahwa ketundukan itu akal dan tidak ada ketundukan bagi orang-orang yang tidak berakal. (hlm 78) Dari sini, kemudian "Firman" merumuskan satu kemestian berfikir, keharusan berfilsafat, bahwa sekuat apapun kita berfikir, pada akhirnya akal akan bertemu dengan ke absurdan. Sebab, al-Qur'an sendiri berkata "Kehidupan dunia itu hanya permainan dan senda gurau" (Q.S al-An'am ayat 32).
Kemudian ia mengartikan inti dari risalah muhammad, ad-din al-Islam, dengan filafat proses, dimana din merupakan "ketundukan berfikir" dan al-Islam merupakan "kepasrahan total kepada-Nya". Singkatnya, penjelasan din dan al-Islam mengisyaratkan kepada manusia untuk "adil" dulu dalam berpikir, baru engkau bisa adil dalam "bertindak". Jadi ad-din al-Islam adalah filsafat Islam itu sendiri, sebagai sebuah sikap mental, sebagai suatu paradigma berfikir dan beramal, berilmu dan beramal. Penolakan filsafat dari khazanah keilmuan Islam kiranya sangat beralasan.
Dalam buku yang pertama "Tapak Sabda", disitu diungkapkan ketika "Sabda" tokoh didalamnya yang diceritakan sebagai sosok santri yang kreatif tidak mengakui bahwa dalam khazanah keilmuan Islam. "tidak ada yang namanya fisafat Islam" ungkapnya. Menurutnya "Filsafat" diartikan dengan berpikir secara radikal sedangkan "Islam" adalah ketundukan. Jelas, dari maknanya saja sudah tidak nyambung. Lantas, bagaimana ada kajian Filsafat dalam kajian Islam !. Kata si "Sabda". Singkat kata, buku ini merupakan satu buku yang tidak hanya cukup untuk memenuhi rak buku atau perpustakaan, mengingat pembahasanya yang cukup luas, terutama bagi mereka kalangan pesantren. Terlebih bagi seorang yang telah membaca Dunia Shopie, buku ini dapat dijadikan pelengkap dari Dunia Shopie yang banyak "melupakan" cendekiawan dan filsuf muslim dalam pembahasanya. Dengan membaca buku ini, kita akan diajak berkelana dengan seabrek penulis dan pemikir baik itu dari Barat, Timur bahkan pemikir-pemikir dari Indonesia. Pemikir Barat katakanlah, Sartre, E B Taylor, Immanuel Kant, Aristoteles, Albert Camus dan lain sebagainya. Pemikir Timur, Ibnu Rusyd, al-Farabi, al-Kindi, Ibnu Sina, Muhammad Iqbal, Mulla Sadra dan masih banyak lagi.
Akhirnya seperti yang telah ditulis oleh penulis sendiri makna semesta Sabda yang diurai dalam buku ini dimaknai dalam dua pemaknaan. Pertama, Luasnya kehidupan manusia (dalam hal ini tokoh yang bernama sabda), Kedua, luasnya sabda dunia sabda Muhammad Saw. Akan tetapi, buku ini membalikan arti "luas" menjadi "Semesta Sabda". Tentang luasnya semesta sabda, terlihat dari cerita "Sabda" yang dipaparkan dalam buku ini, bagaimana "Sabda" yang terdiam diberanda rumah lalu "merasa" terbang bersama seekor burung yang membawa "Sabda" kepada tempat yang belum pernah ia jamah; tak ada rumah, tak ada gunung, tak ada langit, tak ada laut. semua yang ia lihat hanya satu keadaan yang biru dan membiru. "Aku dimana ?" benaknya berkata "Burung, kita mau kemana? Aku dimana ? hatinya bertanya.  Di dirinya seolah mendengar suara " Jangan bertanya, ikuti saja." Dia terus terbang, melayang, bukan ke awang-awang. "Ah, damai terasa aku disini, entah dimana," hatinya mengaku (hlm 70).
Melihat kisah ini, kita bisa sedikit meraba "Sabda" tengah mengalami kisah spiritual yang teramat dalam. Akan tetapi, "Sabda" menganggap pengalaman ketika disuatu senja itu sebagai "kelelahan urat saraf"saja. Tentang luasnya sabda Muhammad Saw, penulis "Firman" mengurai panjang lebar mengenai sabda-sabda Muhammad mengenai Tuhan, alam, dan manusia yang kesemuanya itu tidak pernah terlepas dari alam pikiran manusia.

Penulis adalah pecinta buku, alumnus PP Babakan Ciwaringin Cirebon, tinggal di Yoyakarta

Sentuhan Spiritual Ditengah Krisis Moral Sentuhan Spiritual Aidh Al-Qorni


Penulis: Dr. Aidh Al-Qorni, Cetakan: I, Juli 2006, Tebal : xiv; 644 Halaman, Peresensi: Puji Hartanto*

Masalah krisis moral, tampaknya menjadi catatan yang menarik sepanjang tahun 1997. agama yang dianggap sebagai benteng moralitas, seolah sudah semakin rapuh dengan banyaknya tindakan manusia yang tercerabut dari nilai-nilai agama. Krisis moral yang melanda umat manusia, mulai dari praktik aborsi, korupsi, kolusi, hingga kerusuhan dan pembakaran tempat ibadah, tampaknya semakin merajalela. Tragedi yang menggetarkan hati ini, tampaknya sudah menjadi nestapa kelam dalam peradaban umat manusia saat ini. Sehingga tidaklah berlebihan kalau Quraish Shihab dalam buku Lentera Hati, menyebut peradaban umat saat ini sudah memasuki jahiliyah baru. Yaitu sebuah peradaban yang memebenarkan penindasan, pembunuhan, ketidakadilan dan ketidakjujuran.
Kemudian, dari berbagai fenomena krisis moral tersebut, maka timbul pertanyaan tentang peran agama sebagai benteng moralitas. Mengapa ajaran agama yang begitu luhur, solah-olah tak mampu meredam krisis moral yang semakin buram ini? Agama sesungguhnya adalah bagaikan lampu yang menerangi jalan manusia. Dengan demikian, mereka yang yang mengabaikan agama, maka mereka seolah berjalan dalam kegelapan dan kesesatan. Yang menjadi permasalahan adalah, walaupun manusia mengaku beragama, namun dalam praktiknya ada orang yang mau menerima dan ada orang yang enggan menerimanya. Biasanya kesombongan dan keangkuhan yang ada dalam diri manusia membuat mata da telinga mereka tertutup menerima ajaran agama.
Buku karya Aidh Al-Qorni dengan judul “Sentuhan Spiritual” ini memang tidak bepretensi untuk mengikis habis kejahiliaan yang melanda sebagian besar umat manusia denga menebarkan “bunga-bunga sorga” beserta keindahannya. Sebaliknya, tujuan dari buku ini adalah tidak lain memberikan sebuah pencerahan atas kegersangan spiritual manusia dewasa ini. Menurut penulis buku ini, bahwa desawa ini, ajaran agama yang begitu luhur, telah dijadikan hanya sebatas slogan, alat legitimasi dan retorika-retorika politik (143). Sementara ajaran agama itu sendiri sulit untuk diwujudkan. Itulah sebabnya, kita sering melihat orang yang tidak sepadan antara ucapan dengan tindakan.
Lebih jauh, dari dahulu kita mengaggumi bintang di langit, bintang dipanggung, bintang dilapangan, akan tetapi enggan memandang cahaya bintang di hati. Sejak zaman purba, bintang di langit selalu menarik perhatian manusia. Bagi para pelaut ataupun musafir dipadang pasir, beberapa bintang tertentu bisa berperan sebagai kompas, memberikan pedoman untuk menentukan arah perjalanan agar tidak tersesat jalan. Sementara itu, kata Komarudin Hidayat (2005) dengan mengutip pendapat Imanuel Kant, bahwa kita seringkali melupakan bintang di hati yang perannya justru memberikan petunjuk moral.
Dalam setiap diri kita terdapat nurani, yaitu cahaya lembut yang selalu memancarkan kebajikan Ilahi. Namun demikian, volume serta frekuensinya akan tetap berbeda tergantung sejauhmana konsistensi seseorang dalam “menggosok” cermin hatinya. Oleh karena itu, agar seluruh tindakan dan perilaku kita mendapat bimbingan Ilahi, kita harus selalu mendengarkan hati nurani kita yang nyata-nyata terbebas dari segala interes dan ambisi pribadi. Lantas apa konsekuensinya? Kita tidak hanya akan  mengalami kematangan spiritual serta merasakan kebersamaan atas kehadirat-Nya. Bahkan lebih dari itu, kita akan menjadi pribadi yang tercerahkan. Akal akan menjadi jernih dan emosi akan lebih terkendali. Sebab, dengan memperdalam ruang spiritual, kita akan lebih cerdas, arif dan bijak.
Kendati demikian, selama kita masih dalam level “manusia awam”, sebenarnya tidaklah ada garansi bahwa setelah kita “tercerahkan” itu lantas tidak akan tergoda lagi oleh berbagai wujud nafsu syahwat duniawi dalam kehidupan selanjutnya. Yang dimaksud adalah, orang yang telah tercerahkan itu paling tidak akan lebih peka dan efektif hati nuraninya, sehingga mungkin akan menjadi lebih santun, pemurah, dan penyabar. Keinginan untuk kepentingan sendiri atau kelompok sendiri mungkin akan masih tetap ada, akan tetapi tidak akan segera ditampilkan secara begitu saja dalam perilaku-perilaku vulgar yang membuat tuli terhadap aspirasi dan kepentingan orang lain. Dan, itu artinya, setelah melampui tahapan pencerahan spiritual, maka manusia yang sudah tercerahkan akan mengalami proses reaktualisasi diri sebagai “manusia baru”.
Ungkapan-ungkapan sebagaimana tersebut diatas mungkin terkesan bersifat utopis dan romantis. Namun, ditengah moralitas umat yang kian carut-marut, ditandai dengan maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, serta berbagai tindak kejahatan lainnya, tampaknya jika hanya dengan melalui formula rasional empirik saja, tidaklah bisa menjadi jalan keluar yang baik. Maka formula yang berdimesi spiritual-etik pun menjadi amat diperlu

Al Qur'an On Line