Cari Entry Blog Ini

Sabtu, 27 April 2013

Dialektika Sejarah dan Ajaran Nabi Muhammad


Oleh Puji Hartanto

Senin, 2 April 2007
Peringatan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW sering dijadikan momen untuk membangkitkan kembali moralitas umat Islam yang rapuh. Sejarah mencatat bahwa pahlawan legendaris Islam, Shalahuddin al-Ayyubi, adalah orang yang pertama mengadakan peringatan Maulid Nabi - sebagai salah satu upaya untuk membangkitkan moralitas umat saat perang salib.

    Nabi Muhammad Saw sendiri lahir di kota Mekah pada 12 Rabiul Awal 570 Masehi. Tahun kelahirannya dikenal dengan sebutan Tahun Gajah. Hal itu dikarenakan ada sekelompok tentara berkendaraan gajah yang dipimpin oleh Abrahah - seorang gubernur kerajaan Nasrani Abessinia - yang memasuki kota Mekah untuk menghancurkan Ka'bah. Berkat kekuasaan Allah SWT, tentara gajah itu gagal melakukan misinya.

    Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, maka kesadaran profetik menjadi niscaya untuk kita miliki. Sebagai seorang Muslim, sesungguhnya tidak cukup bagi kita untuk hanya mengikuti ajaran-ajaran Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Yang paling utama adalah memahami jejak spiritualitas beliau dalam rangka mencapai kesadaran profetiknya.

    Baiklah, sekadar mempermudah pemahaman atas pembahasan ini, penulis ajukan beberapa pertanyaan. Apakah Muhammad ketika diangkat sebagai nabi dan rasul telah diberi Al-Qur'an? Apakah pencapaian spiritual yang mengagumkan, mempesona, sekaligus membuat merinding bulu kuduknya, pertama kali, ketika beliau dijumpai Jibril di Gua Hira, itu berdasarkan Al-Qur'an? Apakah kehendak dan niat untuk berkehendak dalam bentuk khalwat di Gua Hira itu berdasarkan nash-nash Ilahiah yang pernah beliau dengar dan baca sebelumnya?

    Tentu saja tidak demikian. Itulah sebabnya, kita bisa mengatakan bahwa tanpa Al-Qur'an dan hadis pun seseorang akan mampu mencapai kedalaman dan keagungan spiritual. Dikatakan demikian, karena Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam bahwa sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau bahan ajaran Islam, bukanlah Al-Qur'an dan hadis, melainkan sejarah Muhammad. Karena Al-Qur'an dan hadist adalah bagian dari sejarah Muhammad yang merupakan kata-kata dan perilaku Muhammad itu sendiri.

    Di sinilah, diakui atau tidak, hingga saat ini kebanyakan umat Islam hanya memegang teguh ajaran-ajaran Rasulullah saja. Sebaliknya, mereka tidak mencoba untuk menjadi Rasulullah itu sendiri. Akibatnya, pemaksaan pemahaman bahwa keberbedaan dalam memahami ajaran Muhammad menjadi sesuatu yang wajar dan lumrah. Pemahaman yang demikian ini kemudian ditambah lagi dengan menggantungkan diri pada statemen bahwa perbedaan adalah rahmat bagi kita.

    Oleh karena perbedaan adalah rahmat, kita serasa semakin tidak peduli bahwa ternyata keberbedaan di tengah-tengah umat justru telah melahirkan bentuk-bentuk kezaliman, ketidakadilan, penindasan dan padanan kata lainnya. Selama ini kita dihibur dengan statemen demikian ini, sambil kedua bola mata kita menyaksikan secara terus-menerus bagaimana sesama umat saling menuduh, memfitnah, mencemooh, memaki, mengklaim siapa yang benar dan yang salah, siapa yang tersesat dan siapa yang menyesatkan, dan seterusnya.

    Ajaran Muhammad yang sesungguhnya teramat mulia, akhirnya menjadi pedang bermata dua, justru oleh kelakuan umatnya sendiri.

    Tak pelak lagi, keterbatasan kita dalam memahami dunia Muhammad menjadikannya sebagai sebuah dunia profetis atau ketidakberdayaan kita untuk mengikuti tindakan dan perilaku Muhammad. Dengan kata lain, selama ini kita lebih terbiasa mengikuti ajaran Muhammad (yang terkadang secara salah), bukan mengikuti Muhammad itu sendiri.

    Oleh karena itu, menjadi Rasulullah berarti dengan sendirinya kita mengikuti proses yang ditempuh oleh Rasulullah Saw, baik sebelum beliau menjadi seorang nabi dan utusan Allah, maupun setelah beliau menjadi nabi dan utusan-Nya.

    Analog dari pernyataan itu adalah ketika kita hanya sebatas mengikuti ajaran Muhammad (pesan-pesan illahiah yang beliau dapat setelah menjadi nabi dan rasul), maka selama itu pula kita tidak akan mampu menjadi Muhammad. Kita tidak akan mampu mendapatkan wahyu illahi, dan akhirnya, kita tidak akan pernah mengalami kelezatan-kelezatan spiritual sebagaimana nabi mendapatkannya. Karena, kita (umat Islam) hanya mengikuti ajaran Muhammad saja.

    Dengan demikian, Muhammad dengan ajaran Muhammad adalah membedakan antara perjalanan ruhiah Muhammad sebelum beliau mendapatkan pencerahan Illahi (yakni momentum beliau diutus menjadi seorang nabi dan rasul). Oleh karena itulah, umat Islam setidaknya diharuskan untuk terus berusaha menguak falsafah hidup Muhammad, sebelum beliau diangkat menjadi seorang nabi dan rasul, yang dengan cara demikian umat Islam akan mendapati falsafah hidupnya sesuai dengan falsafah hidup Muhammad.

    Sebab, diyakini bahwa kita semua sesungguhnya mempunyai potensi yang sama untuk mencapai apa yang dicapai Muhammad, terkecuali masalah kenabian dan kerasulannya.

    Namun juga harus diingat bahwa penghadiran ruh profetis dengan mengikuti pola sejarah Muhammad tanpa mengikuti ajaran-ajaran Muhammad juga akan memerosokkan kita ke dalam jurang mistis. Maka yang harus dilakukan adalah memadukan antara keduanya, memadukan antara Islam esoteris dengan eksoteris, memadukan antara Islam inklusif dengan eksklusif, memadukan antara kebenaran dan kehadiran.

    Kebenaran sebagai misi komitmen religiusitas umat Islam harus menjadi pegangan bagi setiap Muslim, tetapi kehadiran (Tuhan) dalam diri setiap Muslim menjadi keharusan dalam berkomitmen terhadap kebenaran. Dengan kebenaran, jiwa akan mengetahui, memahami, dan menyadari betapa penting menghindari setiap kecenderungan yang negatif. Dengan kehadiran itu, maka pengetahuan, pemahaman dan kesadaran akan kebenaran menjadi pengalaman impersonal yang indah, membahagiakan dan penuh inspirasi.

    Akhirnya, momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad kali kita dapat mengambil saripati sejarah Muhammad sebagai sebuah "ibrah" atau gambaran perjalanan menuju Allah SWT. Lewat cara itu, maka kita akan mampu menghadirkan "ruh" profetis Nabi dalam diri kita.***

    Penulis adalah asisten Program Pengembangan Kepribadian
    Integral Berkelanjutan (P2KIB) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Al Qur'an On Line