Cari Entry Blog Ini

Sabtu, 27 April 2013

Revitalisasi Peranan Pemuda


Oleh Puji Hartanto

Selasa, 24 Juli 2007
Peran pemuda dalam kancah perubahan sosial selalu berada pada posisi depan dan menentukan. Dalam sejarah kehidupan berbangsa tidak ada satu pun perubahan tanpa peran serta pemuda. Memang, inspirasi, konsepsi dan kreasi dari setiap gerakan tidak bisa lepas dari peran golongan muda. Satu bukti, misalnya, "revolusi tauhid" yang terjadi pada jaman jahiliyah yang terjadi di Arab dilakukan oleh pemuda bernama Muhammad Saw, beliau berusia muda. Di Indonesia, para pemuda dan mahasiswa berhasil menumbangkan kekuasaan Soeharto yang otoriter.

    Ironisnya, perjuangan pemuda tidak dilanjutkan oleh orang-orang muda selanjutnya. Sejarah mencatat bahwa proklamasi kemerdekaan RI terjadi setelah beberapa pemuda di bawah pimpinan oleh Chaerul Saleh "menculik" Soekarno dan Hatta untuk segera memploklamasikan kemerdekaan RI. Para pemuda telah kehilangan kesabaran pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang terkesan lamban. Namun setelah memproklamasikan kemerdekaan, Soekarno justru "meninggalkan" para pejuang muda itu.

    Setelah reformasi bergulir, pemerintah berganti, agenda kepemudaan yang menggebu-gebu itu kemudian hilang ditelan gempita dan pemikiran yang penuh dengan trik dan polusi kaum tua yang mengaku lebih berpengalaman dan lebih segalanya. Akibatnya, konsep-konsep reformasi dengan semangat kepemudaan untuk mengubah tatanan negeri ini tak juga berjalan sesuai dengan harapan.

    Kekuatan kaum muda Indonesia hanya bertahan dan kemudian kembali dikendalikan oleh "kaum tua", orang-orang di belakang layar yang menjadi "penumpang gelap reformasi". Kaum muda kembali gigit jari karena mereka kehilangan mementum untuk dapat merebut kembali hegemoni kekuasaan yang ternyata diberikan kepada orang-orang yang "kurang mengerti" makna, semangat dan progresivitas kepemudaan.

    Pemuda atau generasi muda merupakan istilah yang populis dan sarat dengan nilai. Keduanya mempunyai makna yang bersifat ideologis, sosiologis dan kultural. Munculnya adegium "pemuda harapan bangsa", "pemuda pemilik masa depan", atau "pemuda sebagi generasi penentu dan tulang punggung bangsa" yang sering dilekatkan pada istilah di atas semakin menunjukkan betapa besarnya nilai yang terkandung di dalamnya.

    Kehadiran generasi muda mempunyai arti dan makna tersendiri di mata masyarakat. Karena itu, keberadaannya mempunyai gaung yang cukup besar dan apresiasi yang cukup memadai, sehingga di mana pun ia berada selalu mendapatkan ruang untuk berekspresi. Menurut Hendi Hendra Priyadi (2006), besarnya antusiasme masyarakat dalam menerima keberadaan generasi muda dilatarbelakangi oleh beberapa hal.

    Pertama, pemuda mempunyai makna dan nilai strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Kedua, eksistensi pemuda selalu menjadi simbol progresivitas, pelopor dan penentu arah dinamika suatu bangsa. Ketiga, pemuda merupakan prototipe ideal sebagai generasi penerus. Karena ia mempunyai semangat, keteguhan cita-cita, ketegasan sikap, visi yang kosisten dan jelas. Dari sanalah seharusnya semangat kepemudaan dipupuk dan dipertahankan sehingga tidak mudah diterjang oleh berbagai godaan dan tantangan.

    Meskipun demikian, kita pun harus jujur bahwa anak-anak muda sekarang lebih bangga jika berperilaku kebarat-baratan, mulai dari gaya pakaian, makanan, bahkan sikap dan pandangan hidup. Stereotipe gaya hidup hura-hura itu ditunjukan secara gamblang lewat stasiun televisi, mulai dari gaya sinetron dengan pendekatan serba hedonis, hingga acara kontes menyanyi seperti Indonesian Idol atau AFI (Akademi Fantasi Indosiar).

    Anak muda sekarang lebih semangat memacu diri lewat "jalan pintas"; menjadi penyanyi terkenal, artis, lalu banyak penggemar dan kaya lewat profesi yang serba gemerlap.

    Sedangkan yang memiliki komitmen tinggi dan perhatian serius dalam melihat realitas sosial jumlahnya hampir bisa dihitung dengan jari tangan.

    Selain itu adalah adanya krisis kepercayaan golongan tua terhadap kaum muda. Golongan muda selalu dipandang rendah (underestimate) oleh golongan tua, yakni sebagai kelompok yang belum mapan, masih emosional dan kurang nalar. Akibatnya, pendapat dan pemikiran mereka kurang dapat dipertimbangkan dan dipandang secara apriori, meski kadang cukup brilian dan kontekstual.

    Kini saatnya bagi pemuda menunjukkan komitmennya untuk melakukan kerja sosial sebagai aktualisasi peran kesejarahan. Karenanya mau tidak mau mereka harus melakukan upaya "pemberontakan kultural" terlebih dahulu terhadap kondisi yang menjadi kendala sebagaimana digambarkan di atas. Tentu saja kaum muda harus melakukan langkah-langkah tertentu.

    Pertama, melakukan pembekalan diri secara serius dengan meningkatkan wawasan dan pemikiran yang mampu menjadi daya tahan diri ketika harus berperang melawan keadaan untuk mempertahankan idealisme perjuangan. Kedua, kaum muda harus mampu merebut momen, keadaan dan waktu secara profesional agar memiliki ruang dan waktu berproses serta berkompetisi untuk mengembangkan ide dan gagasan secara jujur, terbuka dan kompetitif. Dengan kata lain, kaum muda harus mampu menjaga jarak dari setiap tawaran yang kadang menggiurkan dan menerima kenyataan yang bisa jadi sangat pahit.

    Akhirnya, bagimanapun peran pemuda tetap diperlukan untuk mengawal jalannya bangsa ini. Memberdayakan masyarakat, mengatasi krisis multidimensi serta membangun kemadirian bangsa.

    Karenanya, adalah penting bagi organisasi kepemudaan seperti KNPI untuk memperkokoh visi kebangsaan dalam rangka menyemai energi kolektif gerakan kaum muda untuk mempererat tali persatuan dan kesatuan bangsa. Kita ingatkan bahwa yang terpenting dari gerakan pemuda sekarang bukanlah memperdebatkan teknis aktualisasi dan pemahaman terhadap isi, tetapi konsistensi antara ucapan dan perbuatan yang dibuktikan dalam bentuk kerja konkret dan kontinu.***

    Penulis adalah pemerhati masalah kepemudaan

Tidak ada komentar:

Al Qur'an On Line